Jumat, 04 April 2014

STRES DAN JENIS-JENIS KOPING



Kesehatan Mental
Tugas II
STRES DAN KOPING

*   ARTI PENTING STRES

Pengertian Stres

Buku-buku kedokteran menyatakan bahwa 50% -70% penyakit fisik sebenarnya disebabkan oleh stres. Stres menjadi faktor yang membuat seseorang lebih mudah atau lebih sulit  diserang penyakit.
Andil stres berbeda untuk tiap penyakit, mulai dari yang paling rawan seperti  penyakit-penyakit Gastroinstestinal (perut), sakit kepala, kelelahan yang kronis,sampai penyakit dimana stres hampit tidak berperan didalamnya seperti keracunan. 

Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor pencetus terjadinya kanker sering kali disebabkan oleh stres yang berkepanjangan

Namun apakah sesungguhnya Stres itu?
kita menggap stres sebagai sesuatu yang berkonotasi negatif.
Benarkah stres selalu berakibat negatif?

Pada tingkatan tertentu kita memerlukan stres. Stres yang optimal akan membuat motivasi menjadi tinggi, bergairah, daya tangkap dan persepsi menjadi tajam,dan tenang. 

Stres yang rendah akan mengakibatkan :
1. Kebosanan
2. Motivasi turun
3. Sering bolos
4. Kelesuhan

Stres yang tinggi mengakibatkan :
1. Insomnia
2. Lekas marah
3. meningkatnya kesalahan
4. Kebimbangan


Gejala dan Akibat Stres





Tingkat stres yang tinggi dan berlangsung laam tanpa ada jalan keluar mengakibatkan penyakit seperti :


 






                                        
      a.  Serangan jantung                      f. Gangguan kulit                 k. Keluhan perut
      b. Tekanan darah tinggi                 g. Pusing/sakit kepala           l.  Kringat dingin
      c. Asma/ sering pipis                     h. Sulit menelan                   m. Sakit leher/ kejang otot
      d.  Radang sendi rheumatoid          i.  Mudah lupa                     n. sembelit                  
      e. insomnia, alergi                          j. Panas ulu hati                   o. Capai menahun,Mual

Cox (Gibson,dkk.,1990) mengategorikan akibat stres menjadi lima kategori, yaitu 

      Subjektif
dirasakan secara pribadi, meliputi kegelisahan, agresi, kelesuhan, kebosanan, depresi, kelelahan, kekecewaan, kehilangan kesabaran, harga diri rendah perasaan terpencil.
·         Perilaku
mudah dilihat karena berbentuk perilaku-perilaku tertentu, meliputi mudah terkena kecelakaan, penyalahgunaan obat, peledakan emosi,perilaku impulsif, tertawa gelisah.
·         Kognitif
mempengaruhi proses berpikir, meliputi tidak mampu mengambil keputusan yang sehat, kurang dapat berkonsentrasi, tidak mampu memusatkan perhatian dalam jangka waktu yang lama, sangat peka terhadap kecaman dan mengalami rintangan mental.
·         Fisiologi
Berhubungan dengan fungsi atau kerja alat-alat  tubuh, meliputi gula darah meningkat, denyut jantung/tekanan darah naik, mulut menjadi kering, mudah berkeringat, pupil mata membesar, sering panas dan dingin.
·      Keorganisasian
     Akibat yang tampak dalam tempat kerja, meliputi absen, produktivitas
     rendah, mengasingkan diri dari teman sekerja, ketidak puasan kerja,
     menurunya  ketertarikan dan loyalitas terhadap organisasi.

Terjadinya Stres

Terjadinya stres terggantung pada stresor dan tanggapan seseorang terhadap stresor tersebut. Stresor meliputi berbagai hal. Lingkungan fisik bisa menjadi sumber stresor seperti suhu yang terlalu panas atau dingin, perubahan cuaca, cahaya yang terlalu terang atau gelap, suara bising, polusi dan lain sebagainya.
Stresor bisa berasal dari individu sendiri, konflik berhubungan dengan peran dan tuntutan tanggung jawab yang dirasakan berat bisa membuat seseorang menjadi tegang.
Stresor dari Kelompok seperti: berhubungan dengan teman, hubungan dengan atasan, dan hubungan dengan bawahan.

Stresor dapat bersumber dari keorganisasian seperti: kebijakan yang diambil perusahaan, struktur organisasi tidak sesuai, partisipasi partisipasi para anggota rendah.
Dari Tanggapan individu, stresor yang sama bisa berakibat berbeda pada individu yang berbeda, karena adanya perbedaan tanggapan antar individu. Perbedaan meliputi tingkat usia, jenis kelamin, pendidikan, kesehatan fisik, kepribadian, harga diri, toleransi terhadap kedwiartian.

a.       Usia
Usia dewasa lebih mampu mengontrol stres dibanding usia anak-anak dan usia lanjut.
b.      Jenis Kelamin
Wanita biasanya mempunyai daya tahan yang lebih baik terhadap stresor di banding dengan pria. Secara biologis tubuh wanita lebih lentur dibanding dengan pria, sehingga toleransi terhadap stres lebih baik. Apalagi jika wanita masih pada usia produktif, dan hormon masih bekerja normal.
c.       Pendidikan
Semkin tinggi tingkat pendidikan seseorang, toleransi dan pengontrolan stresor lebih baik.
d.      Kesehatan
Orang yang sakit lebih muda menderita akibat stres dibanding orang yang sehat.
e.       Kepribadian
Orang tipe A cenderung lebih mudah terkena penyakit jantung, daripada kepribadia tipe B. Harga diri rendah cenderung efek stres lebih besar dibanding orang yang mempunyai harga diri tinggi.
f.       Toleransi
orang yang kaku memandang sesuatu hitam dan putih lebih muda stres daripada orang yang menerima adanya warna abu-abu dalam kehidupan.

Sindrom Adaptasi Umum ( General Adaptation Syndrom )

Dikenalkan oleh Selye. Teorinya bersifat umum, memahami reaksi individu terhadap stres. Selye berpendapat bahwa tubuh bereaksi sama ketika menghadapi stres, tidak perduli apapun jenis stresornya.
Bila stres berlangsung dalam jangka waktu lama, reksi pertahanan fisiologis juga berlangsung lama bahkan mengalami peningkatan maka, mengakibatkan terjadinya “penyakit adaptasi” yaitu penyakit atau gangguan yang terjadi akibat harga dari adaptasi yang dilakukan terhadap stres yang berkepanjangan.

Reaksi Tubuh terhadap Stres ada Tiga Fase:

1.      Fase pertama
Tubuh memberikan reaksi mula-mula ketika terkena stres. Mengalami perubahan fisiologis, tingkat resistensinya menurun dibawah tingkat normal. Akibatnya individu merasakan gejala seperti degup jantung semakin cepat, nafas memburu, keringat dingin.
Tahap ini disebut FASE ALARM, fase peringatan bahwa ada stres yang perlu ditangani.
Bila stresornya kuat, maka individu bisa mengalami kematian. Disebabkan karena tingkat resistensi individu memang sedang menurun.

2.      Fase Kedua
Bila  stres terus meneus karena stresornya eksis maka, resistensi tubuh akan mengalami peningkatan di atas tingkat normal dengan tujuan melakukan adaptasi terhadap stresor sehingga individunya bisa berfungsi secara optimal. Tanda-tanda kebutuhan pada tubuh menghilang karena individunya sudah berhasil melakukan “adaptasi” terhadap stresor. Fase ini disebut FASE RESISTENSI. Orang merasa normal kembali meskipun stresnya masih ada, namun energi dikeluarkan lebih tinggi sehingga tubuh bekerja lebih keras.

3.      Fase Ketiga
Bila stres berlanjut tubuh diminta untuk menyesuaikan diri dengn stresornya, maka satu titik energi digunakan tubuh untuk penyesuaian mulai habis. Tingkat resistensi tubuh akhirnya mau tidak mau akan menurun sampai dibawah normal kembali. Fase ini disebut FASE KELELAHAN. Tanda-tanda kebutuhan fase alarm muncul kembali, tetapi energi yang digunakan sudah habis., tubuh tidak dapat lagi melakukan adaptasi.

Bila stres terus berlangsung, gangguan semakin parah, akhirnya individu akan mengalami kematian.  Stresor tidak harus berupa situasi atau sesuatu yang nyata/riil. Stresor bisa terjadi subjektif berupa pikiran-pikiran dan iamjinasi. Misalnya, orang membayangkan dia akan dimarahi oleh atasannya, sudah mengalami stres, meskipun kejadian aktualnya tidak atau belum ada.

Stres Pada Wanita

Wanita (Witkin,dkk.,1986) mempunyai stres disebabkan faktor biologis yang berbeda dengan pria. Budaya juga membedakan peranan  pria dan wanita sehingga wanita mengalami stres yang tidak dialami oleh pria. Wanita juga memiliki akibat stres khusus, yaitu amenorhea (berhenti haid), sakit kepala pra-haid, depresi pasca persalinan, kemurungan waktu menopause, frigiditas, vaginismus, dan ketidaksuburan. Ada juga akibat stres yang sering dialami adalah anoreksia, bulimia, neurosis kekuatiran dan psikosos depresi.

Mengatasi Stres

Kalau stres mempengaruhi fisik bahkan menimbulkan penyakit, peranan obat/medikasi diperluksn. Namun kurang efektif mengatasi stres dalam jangka panjang. Efek negatif bila menggunakan obat terus-menerus. Obat mengakibatkan ketergantungan dan membuat orang kebal terhadap obat.
Biofeedback adalah salah satu teknik untuk mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stres dan belajar untuk menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkain alat yang cukup rumit, gunanya sebagai Feedback atau umpan balik untuk bagian tubuh. Biofeedback agak kurang efektif untuk digunakan secara praktis.
Olahraga dan istirahat yang teratur disebut sebagai cara yang efektif untuk mencegah dan menyembuhkan stres.
Relaksasi adalah teknik yang efektif untuk menyembuhkan stres. Teknik relaksasi ini mengendurkan otot-otot seluruh tubuh, lalu pengendoran dilakukan pada bagian tubuh yang sering mengalami stres. Semakin lama berlatih teknik relaksasi, orang semakin peka dan spontan untuk dapat merasakan bagian tubuh yang terkena stres.
Meditasi merupakan cara mengatasi stres, selain bisa mengatasi stres bisa juga melatih konsentrasi menjadi tajam dan pikiran menjadi lebih tenang.
Pencegahan bisa dilakukan dengan mengubah sikap hidup. Orang yang aktif dengan pekerjaan dan kehidupan masyarakat, berorientasi pada tantangan dan perubahan,menguasi kejadian-kejadian dalam hidupnya adalah orang yang tidak akan mudah terkena efek negatif stres.


   KOPING dan JENIS-JENIS KOPING STRES

Pengertian Koping 

Koping berasal dari kata Coping yangbermakna pengatasan  atau penanggulangan (to cope with = mengatasi, menanggulangi).
Koping disamakan dengan adjustment (penyesuaian diri). Koping dimaknai sebagai cara untuk memecahkan masalah. Koping lebih mengarah kepada yang orang lakukan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan yang penuh tekanan. Koping adalah bagaimana reaksi orang ketika menghadapi stres atau tekanan.

Jenis-Jenis Koping Stres

Harber dan Runyon (1984) menyebutkan jenis koping yang dianggap konstruktif, yaitu:

a.       Penalaran(Reasoning)
penggunaan kemampuan kognitif untuk mengeksplorasikan alternatif pemecahan masalah dan memilihsatu alternatif yang dianggap paling menguntungkan.

b.      Objektifitas
Kemampuan membedakan komponen-komponen emosional dan logis dalam pemikiran ,penalaran,maupun tingkah laku.

c.       Konsentrasi
Kemampuan memusatkan perhatian secara penuh pada persoalan yang sedang dihadapi.

d.      Humor
Kemampuan untuk melihat segi yang lucu dari persoalan yang sedang dihadapi, sehingga perpektif persoalan menjadi lebih luar,terang, dan tidak menekan.

e.       Supresi
Kemampuan untuk menekan reaksi yang mendadak terhadap situasi yang ada sehingga memberikan cukup waktu lebih menyadari dan memberikan reaksi konstrukstif.

f.       Toleransi terhadap Kedwiartian atau Ambiguitas
Memahami banyak hal dalam kehidupan yang bersifat tidak jelas dan karenanya perlu memberikan ruang bagi ketidakjelasan.

g.      Empati
Kemampuan untuk melihat sesuatu dari pandangan orang lain. Kemampuan merasakan apa yang dihayati dan dirasakan oleh orang lain.



APA (1994) menerbitkan DSM-1V, menyebutkan sejumlah koping sehat. Selain dari pada Supresi,Sublimasi,Humor. Jenis Koping yang Sehat lainnya adalah:

Ø  Antisipasi

Kesiapan mental individu untuk menerima suatu perangsang. Individu mampu mengantisipasi akibat-akibat dari konflik atau stres dengan cara menyediakan alternatif respon atau solusi yang paling sesuai.

Ø  Afiliasi

Kebutuhan untuk berhubungan atau bersatu dengan orang lain dan bersahabat dengan mereka.  kemampuan untuk membagikan masalah dengan orang lain sehingga secara tidak langsung membuat orang lain turut merasa bertanggung jawab terhadap persoalan atau konflik yang dihadapi.

Ø  Altruisme

Salah satu bentuk koping dengan cara mementingkan kepentingan orang lain. Berkorban memberikan diri bagi sesama menjadi nilai universal yang sangat dihargai oleh umat manusia.

Ø  Penegasan Diri (Self Assertion)

Individu berhadapan dengan konflik emosional yang menjadi pemicu stres dengan cara mengekspresikan perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya yang secara langsung tetapi dengan cara yang tidak memaksa.

Ø  Pengamatan Diri (Self Observation)

Individu melakukan pengujian secara objektif proses-proses kesadaran sendiri atau mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku, motif,ciri, sifat sendiri, untuk mendapatkan pemahaman mengenai diri sendiri.

                              Teori Kepribadian Sehat

         Allport

Konsep allport  mengenai kepribadian yang matang secara fisilogis memiliki karakteristik berupa perilaku proaktif, yaitu mereka mampu bertindak secara sadar dalam lingkungannya melalui pendekatan-pendekatan yang baru dan inovatif. Lingkungan mereka memberikan respon terhadap mereka.
Pribadi yang sehat biasanya mempunyai masa kecil yang relatif tidak traumatis walaupun pada tahun-tahun berikutnya mereka dapat menghadapi konflik dan penderitaan.orang-orang yang sehat secara psikologis tidak terbebas dari kelemahan-kelemahan ataupun keanehan-keanehan yang membuat mereka unik.

 Allport mengidentifikasikan enam kriteria kepribadian matang.
1.      Perluasan Perasaan Pribadi
Pribadi yang matang terus mencari untuk dapat mengindentifikasi diri dan berpartisipasi dalam kejadian yang terjadi diluar diri mereka. Tidak berpusat pada diri sendiri (self-centered) serta mampu untuk melibatkan dalam masalah dan aktivitas yang tidak terpusat pada diri mereka.
2.      Adanya Hubungan yang Hangat dengan orang lain.
Mereka mempunyai kapasitas untuk mencintai orang lain dalam cara-cara yang intim dan simpatik dengan orang lain.
3.      Keamanan Emosional atau Penerimaan Diri.
Pribadi yang matang menerima diri mereka apa adanya,dan memiliki apa yang disebut keseimbangan emosional. Manusia yang sehat secara psikologis tidak akan menjadi terlalu sedih apabaila terhadap hal-hal yang berjalan diluar rencana atau saat mereka hanya “mengalami hari yang buruk”.
4.      Persepsi Realitas Mengenai Lingkungan
Mereka tidak hidup di dalam dunia  fantasi atau membelokakan kenyataan agar sesuai dengan harapan mereka.
5.      Insight dan Humor
Pribadi yang matang mengenal dirinya sendiri, sehingga mempunyai kebutuhan untuk mengatribusikan kesalahan dan kelemahannya kepada orang lain.
Mereka juga mempunyai selera humor yang tidak kasar, yang memberikan mereka kapasitas untuk menertawakan diri meraka sendiri daripada bergantung pada tema-tema seksual atau kekerasan untuk membuat orang lain tertawa. Insight dan Humor sangat berhubungan merupakan aspek-aspek dari hal yang sama,yaitu pemahanman diri.
6.      Filosofi Kehidupan yang Integral
Manusia yang sehat mempunyai pandangan tersebut, insight mereka akan menjadi kosong dan gersang, serta akan memiliki humor yang dangkal dan sinis. Filosofi kehidupan yang integral dapat berupa sesuatu yang meraskan bahwa orientasi religius yang matang merupakan komposisi yang penting dalam kehidupan pribadi yang sangat matang.

 
     ROGERS 

Perkembangan Kepribadian “SELF”
Rogers mengungkapkan terdapat tiga unsur yang sangat esensial dalam hubungannya dengan kepribadian, yaitu ;
       1.      Self
Bagian dari kepribadian yang terpenting dalam pandangan Rogers. Self disebut pula self concept, merupakan persepsi dan nilai–nilai individu tentang dirinya.
Self meliputi dua hal, 
           Ø  Self real ( gambaran sebenarnya tentang dirinya yang nyata ) 
           Ø  Ideal self ( apa yang menjadi kesukaan, harapan, atau yang idealisasi tentang dirinya )
2    2.      Medan Fenomenal (fenomenal field)
Keseluruhan pengalaman seseorang yang diterimanya baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Kita mampu memahami fenomenal field seseorang hanya dengan menggunakan kerangka pemiiran internal individu yang bersangkutan (imternal frame of referance)
3.      3.  Organisme
Keseluruhan totalitas imdividu yang meliputi : pemikiran, perilaku dan keadaan fisik.

Kepribadian menurut Rogers merupakan hasil dari interaksi yang terus menerus antara organisme, self dan medan fenomenal. Untuk memahami perkembangan kepribadian perlu dibahas tentang dinamika kepribadian berikut:

1. Kecenderungan mengaktualisasikan diri.
Rogers beranggapan bahwa organisme manusia adalah unik dan memiliki kemampuan untuk mengarahkann mengatur, mengontrol dirinya dan mengembangkan potensinya. Kecenderungan mengaktalisasikan ini sifatnya terarah, konstruktif dan ada dalam kehidupannya. Kecenderungan mengaktualisasi sebagai daya dorong ( motive force ) individu, yang bersufat inherent, karena sudah dimiliki sejak dilahirkan, hal ini ditunjukan dengan kemampuan bayi untuk memberikn penilaian apa yang terasa baik (actualizing) dan yang terasa tidak baik (nonactualizing) terhadap peristiwa yang diterimanya.

2. Penghargaan positif dari orang lain
Lingkngan sosial yang sangat berpengaruh adalah orang – orang yang bermakna baginya, seperti orang tua atau terdekat lainnya. Seseorang akan berkembang positif, apabila di dalam berinteraksi itu mendapatkan penghargaan, penerimaan, dan cinta dari orang lain (positive regard). 

3. Person yang berfungsi secara utuh.
Individu yang terpenuhi kebutuhannya, yaitu memperoleh penghargaan positif tanpa syarat dan mengalami penghargaan diri, akan dapat memncapai kondisi yang kongruensi antara self dan engalamannya, pada akhirnya dia akan dapat mencapai penyesuaian psikologis secara baik. Rogers menegaskan bahwa orang yang demikian ini menjadi pribadi yang berfungsi secara sempurna (fully functional person), yang ditandai oleh keterbukaan terhadap pengalaman, percaya kepada organismenya sendiri, dapat mengekpresikan perasaan – perasaannya secara bebas, bertindak secara mandiri, dan krteatif (Rogers, 1970). Fully functioning ini pada dasrnya sebagai tujuan hidup manusia.

 Peranan Rogers dalam Pembentukan Kepribadian Individu

Positive regards, suatu kebutuhan yang memaksa dan merembes,dimiliki semua orang, setiap anak terdorong untuk mencari positive regards. Cara-cara khusus bagaimana diri itu berkembang dan apakah dia akan menjadi sehat atau tidak tergantung pada cinta yang diterima anak itu pada masa kecil. Pada waktu diri itu mulai berkembang,anak itu juga belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebut kebutuhan ini “penghargaan positif” (positive regards).
Anak puas kalau dia menerima kasih sayang,cinta,dan persetujuan dari orang-orang lain,tetapi dia kecewa kalau dia menerima celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih sayang. Oleh karena itu,peran orang tua sangat penting bagi perkembangan anak. Berikan anak cinta dan kasih sayang yang seutuhnya,jangan sampai anak tidak mengenali figur dari salah satu atau kedua orang tuanya.
Karena hal itu akan berpengaruh negatif bagi perkembangan anak. Anak akan tumbuh menjadi suatu kepribadian sehat tergantung pada sejauh manakah kebutuhan akan positive regards ini dipuaskan dengan baik. Anak mulai mengembangkan sesuatu “pengertian-diri” (self-concept) melalui positive regards.

Setiap manusia memiliki kebutuhan basic akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, cinta, kasih, dan sayang dari orang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).
Pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami pengharagaan positif tak bersyarat.

Ciri-ciri Orang yang Berfungsi Sepenuhnya

 Rogers memberikan lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya :
1. Keterbukaan pada Pengalaman
Orang yang demikian mengetahui segala sesuatu tentang kodratnya; tidak ada segi kepribadian tertutup. Itu berarti bahwa kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru. Sebaliknya, kepribadian orang yang defensif, yang beroperasi menurut syarat-syarat penghargaan adalah statis, bersembunyi di belakang peranan-peranan, tidak dapat menerima atau bahkan mengetahui pengalaman-pengalaman tertentu.
Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih ”emosional” dalam pengertian bahwa dia mengalami banyak emosi yang bersifat positif dan negatif (misalnya, baik kegembiraan maupun kesusahan) dan mengalami emosi-emosi itu lebih kuat daripada orang defensif.

2. Kehidupan Eksistensial
 Setiap pengalaman dirasa segar dan baru, seperti sebelumnya belum pernah ada dalam cara yang persis sama. Ada kegembiraan karena setiap pengalaman tersingkap. Rogers percaya bahwa kualitas dari kehidupan eksistensial ini merupakan segi yang sangat esensial dari kepribadian yang sehat. Kepribadian terbuka kepada segala sesuatu yang terjadi pada momen itu dan dia menemukan dalam setiap pengalaman suatu struktur yang dapat berubah dengan mudah sebagai respons atas pengalaman momen yang berikutnya.

3. Kepercayaan Terhadap Organisme Orang Sendiri
Seseorang yang beroperasi semata-mata atas dasar rasional atau intelektual sedikit banyak adalah cacat, karena mengabaikan faktor-faktor emosional dalam proses mencapai suatu keputusan. Semua segi organisme-sadar, tak sadar, emosional, dan juga intelektual – harus dianalisis dalam kaitannya dengan masalah yang ada. Karena data yang digunakan untuk mencapai suatu keputusan adalah tepat (tidak diubah) dank arena seluruh kepribadian mengambil bagian dalam proses membuat keputusan, maka orang-orang yang sehat percaya akan keputusan mereka, seperti mereka percaya diri mereka sendiri.
Sebaliknya orang yang defensive membuat keputusan-keputusan menurut larangan-larangan yang membimbing tingkah lakunya.

4. Perasaan Bebas
 Rogers percaya bahwa semakin seseorang sehat secara psikologis, semakin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Tambahan lagi, orang yang berfungsi sepenuhnya memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan, atau peristiwa-peristiwa masa lampau.

5. Kreativitas
Orang-orang yang terbuka sepenuhnya kepada semua pengalaman, yang percaya akan organisme mereka sendiri, yang fleksibel dalam keputusan serta tindakan mereka ialah orang-orang sebagaimana dikemukakan Rogers yang akan mengungkapkan diri mereka dalam produk-produk yang kreatif dan kehidupan yang kreatif dalam semua bidang kehidupan mereka. Tambahan lagi, mereka bertingkah laku spontan, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam sekitar mereka.

Daftar Pustaka :          Feist,J & Feist; 7 (2012).Theory of Personality.Boston : Mc Graw Hill.
Siswanto,S.Psi., M.Si. Kesehatan Mental; Konsep,Cakupan dan
                                                     Perkembangannya.
                               





Tidak ada komentar:

Posting Komentar